Minggu, 13 September 2026

EIGER Women Flagship Store Pertama di Indonesia Hadir di Bandung, Jadi Rumah Baru untuk Perempuan

EIGER Women Flagship Store Pertama di Indonesia Hadir di Bandung, Jadi Rumah Baru untuk Perempuan

Tianlustiana.com - Bandung selalu punya cara sendiri untuk menghadirkan sesuatu yang menarik. Kali ini bukan sekadar tempat nongkrong baru atau destinasi belanja yang estetik, tetapi sebuah ruang yang menurut saya punya cerita lebih dari sekadar toko.

Pada 12 September 2026, EIGER membuka EIGER Women Flagship Store pertama di Indonesia di Jalan Sumatra, Kota Bandung.




Buat saya yang cukup sering melihat perkembangan brand lokal dan lifestyle di Bandung, kehadiran toko ini menarik untuk diperhatikan. Apalagi EIGER Women Flagship Store Bandung bukan hanya hadir sebagai tempat untuk membeli perlengkapan outdoor perempuan.

Ada konsep yang lebih besar di baliknya: menjadikan toko sebagai rumah bagi perempuan, ibu, anak, dan komunitas.

Dan rasanya konsep seperti ini memang sedang banyak dibutuhkan.




EIGER Women Flagship Store Bandung, Bukan Sekadar Toko

Kalau mendengar nama EIGER, mungkin yang langsung terbayang adalah aktivitas outdoor, hiking, naik gunung, traveling, atau berbagai perlengkapan untuk menjelajah alam.

Tapi perempuan dan aktivitas luar ruang hari ini rasanya sudah berkembang jauh lebih luas.

Tidak semua perjalanan perempuan harus dimulai dari puncak gunung.

Ada perempuan yang setiap pagi bersiap mengantar anak sekolah. Ada yang berangkat ke kantor, bertemu klien, mengurus rumah, mengejar passion, membuat konten, olahraga, traveling, sampai sekadar menikmati waktu sendiri.

Setiap perempuan punya perjalanan masing-masing.

Hal inilah yang terasa ingin dibawa oleh EIGER Women melalui flagship store terbarunya di Bandung. 



Agnes Lukito, Head Division EIGER Women & Junior, menyampaikan bahwa alam bukan hanya tempat untuk dijelajahi, tetapi juga bisa menjadi ruang bagi seseorang untuk belajar menjadi lebih kuat, teguh, sekaligus lebih mengenal dirinya sendiri.

Saya suka dengan sudut pandang ini.

Karena pada akhirnya, perjalanan perempuan memang tidak selalu tentang seberapa jauh kita pergi. Kadang perjalanan terbesar justru terjadi ketika kita sedang belajar memahami diri sendiri.


Toko EIGER ke-350 Ada di Bandung

Ada satu hal menarik lainnya dari pembukaan EIGER Women Flagship Store Bandung.

Kehadirannya sekaligus menandai toko EIGER Adventure ke-350 di Indonesia.

Angka 350 tentu bukan angka kecil. Ini menunjukkan perjalanan panjang EIGER dalam membangun jaringan dan mendekatkan produk outdoor kepada masyarakat Indonesia.

Dan Bandung dipilih sebagai lokasi EIGER Women Flagship Store pertama di Indonesia.

Menurut saya, Bandung memang punya ekosistem yang cukup kuat untuk konsep seperti ini. Mulai dari komunitas olahraga, pecinta alam, perempuan kreatif, lifestyle, sampai berbagai komunitas yang aktif membuat kegiatan bersama.

Jalan Sumatra pun menjadi lokasi yang menarik karena kawasan ini sudah cukup dikenal sebagai salah satu area yang hidup dengan berbagai aktivitas lifestyle di Kota Bandung.


Pembukaan Diramaikan Morning Yoga hingga Women Fun Run

Yang menarik, pembukaan EIGER Women Flagship Store Bandung juga tidak dilakukan dengan acara seremoni yang monoton.

Sejak pagi, kawasan ini sudah diramaikan berbagai kegiatan yang melibatkan perempuan dan anak-anak.

Ada morning yoga, women fun run, kegiatan bersepeda, workshop kreatif, hingga aktivitas yang berkaitan dengan perawatan perempuan, ibu, dan anak.



Jadi kalau melihat rangkaian kegiatannya, sebenarnya konsep “rumah baru untuk perempuan” sudah mulai terasa sejak hari pertama dibuka.

Perempuan datang bukan hanya untuk melihat produk.

Ada yang berolahraga, bertemu teman, mengikuti kegiatan, belajar sesuatu, berbagi cerita, atau sekadar menikmati suasana.

Buat saya, justru pengalaman seperti ini yang membuat sebuah brand terasa lebih dekat.

Karena kita tidak hanya mengenal produknya, tetapi juga mengenal nilai dan komunitas yang ada di belakangnya.


Lebih Besar dan Lebih Lengkap

EIGER Women Flagship Store di Jalan Sumatra ini dirancang lebih besar dibandingkan gerai EIGER Women sebelumnya yang berada di Surabaya dan Depok.

Koleksi yang ditawarkan juga lebih lengkap, khususnya untuk perempuan yang memiliki aktivitas outdoor maupun berbagai kebutuhan perjalanan sehari-hari.

Namun yang membuat flagship store ini berbeda bukan hanya soal ukuran toko atau banyaknya produk.



EIGER ingin menghadirkan pengalaman belanja yang lebih nyaman, personal, dan tentunya lebih dekat dengan kebutuhan perempuan.

Bayangkan saja, ketika sedang mencari perlengkapan untuk traveling, hiking, olahraga, atau sekadar aktivitas outdoor, kita bisa datang ke tempat yang memang dirancang dengan mempertimbangkan kebutuhan perempuan.

Rasanya lebih personal.


Rumah untuk Komunitas Perempuan di Bandung

Satu bagian yang menurut saya cukup menarik dari konsep EIGER Women Flagship Store Bandung adalah keinginannya untuk menjadi rumah komunitas.

Bukan hanya untuk komunitas outdoor, tetapi juga komunitas perempuan.

Ini membuka kemungkinan yang cukup luas.

Toko bisa menjadi tempat bertemu, berbagi pengalaman, mengadakan workshop, membuat kegiatan olahraga, diskusi, sampai berbagai aktivitas yang mendorong perempuan untuk terus bertumbuh.

Karena komunitas, kalau dikelola dengan baik, bukan sekadar kumpulan orang yang memiliki hobi sama.

Komunitas bisa menjadi tempat seseorang menemukan teman, mendapatkan inspirasi, bahkan menemukan keberanian untuk mencoba sesuatu yang sebelumnya tidak pernah terpikirkan.

Dan mungkin inilah alasan kenapa konsep “rumah” terasa tepat.

Rumah bukan selalu soal bangunan. Rumah adalah tempat di mana kita merasa diterima.




Perjalanan Perempuan Itu Beragam

Ada satu hal dari pernyataan Agnes Lukito yang menurut saya cukup relate.

Perjalanan perempuan tidak selalu tentang mendaki gunung.

Benar juga.

Perjalanan perempuan bisa sangat sederhana tetapi sekaligus sangat menantang.

Menjadi ibu adalah perjalanan.

Menjadi perempuan karier adalah perjalanan.

Memulai bisnis adalah perjalanan.

Mengejar passion adalah perjalanan.

Belajar mencintai diri sendiri juga perjalanan.

Bahkan berani memulai kembali setelah melewati sesuatu yang tidak mudah pun merupakan sebuah perjalanan.

Karena itu, saya melihat EIGER Women bukan hanya sedang menjual produk outdoor untuk perempuan.

Ada pesan yang lebih luas: perempuan berhak punya ruang untuk menjelajah, berkembang, dan menemukan kekuatan dirinya sendiri.

Dan tentu saja, perjalanan tersebut tetap bisa dilakukan dengan cara masing-masing.

Tidak perlu membandingkan perjalanan kita dengan perempuan lain.




EIGER Women dan Semangat Perempuan untuk Terus Bergerak

Kehadiran EIGER Women Flagship Store pertama di Indonesia di Bandung terasa seperti sebuah langkah baru bagi EIGER.

Dari yang awalnya sangat identik dengan aktivitas outdoor, kini EIGER juga ingin semakin dekat dengan keseharian perempuan.

Karena perempuan memang punya banyak sisi.

Bisa aktif di luar rumah, tetapi juga punya tanggung jawab di rumah.

Bisa menjadi ibu sekaligus profesional.

Bisa suka hiking sekaligus menikmati aktivitas yang lebih santai.

Bisa kuat dan mandiri, tetapi tetap membutuhkan ruang untuk beristirahat.

Tidak ada satu definisi tentang perempuan yang harus diikuti semua orang.

Setiap perempuan punya jalannya sendiri.

Dan mungkin, itulah yang ingin dirayakan melalui EIGER Women Flagship Store Bandung.




Bandung Punya Rumah Baru untuk Perempuan

Dengan dibukanya EIGER Women Flagship Store di Jalan Sumatra, Bandung kini punya satu ruang baru yang bisa menjadi titik temu bagi perempuan dan komunitas.

Bukan hanya tempat belanja perlengkapan outdoor, tetapi juga ruang untuk bertemu, bergerak, belajar, berbagi, dan mendapatkan inspirasi.

Saya sendiri melihat konsep seperti ini cukup menarik karena pengalaman berbelanja sekarang memang sudah berubah.

Orang tidak hanya mencari produk.


Kita juga mencari pengalaman, komunitas, cerita, dan rasa nyaman.

Dan ketika sebuah brand mampu menciptakan ruang yang membuat orang ingin datang kembali, bukan hanya karena produknya tetapi karena suasananya, menurut saya di situlah hubungan antara brand dan konsumennya mulai terasa lebih dekat.

Jadi, buat teman-teman perempuan di Bandung yang suka aktivitas outdoor, traveling, olahraga, atau sekadar ingin mencari perlengkapan yang mendukung aktivitas sehari-hari, mungkin EIGER Women Flagship Store Jalan Sumatra bisa masuk dalam daftar tempat yang perlu dikunjungi.

Siapa tahu, bukan hanya menemukan perlengkapan baru untuk menemani perjalanan, tetapi juga menemukan komunitas baru dan cerita baru.

Karena pada akhirnya, perjalanan setiap perempuan memang berbeda.

Yang penting, jangan berhenti berjalan.


Selamat datang di rumah baru perempuan di Bandung, EIGER Women Flagship Store.

Kalau kamu sudah pernah berkunjung ke EIGER Women Flagship Store Bandung, bagian mana yang paling menarik perhatianmu? Produk, konsep tokonya, atau justru kegiatan komunitasnya? Cerita di kolom komentar, ya.


 




Sampai jumpa pada postingan selanjutnya,


Tian Lustiana 

Sabtu, 12 September 2026

Review Film Agensi Rumah Tangga: Nonton di BIP Bareng Teh Efi, Ternyata Sehibur Itu!

Review Film Agensi Rumah Tangga: Nonton di BIP Bareng Teh Efi, Ternyata Sehibur Itu!

Tianlustiana.com - Ada kalanya kita pergi ke bioskop bukan karena sedang mencari film yang berat atau ingin dibuat mikir sampai pulang. Kadang cuma ingin duduk manis, makan dulu, nonton, ketawa, lalu pulang dengan perasaan yang lebih ringan. Ya, karena akhir - akhir ini pekerjaan di kantor menguras otak dan emosi, jadi saya butuh tontonan yang ringan yang membuat saya tertawa. 


Nah, kurang lebih begitu suasana saya ketika akhirnya menonton film Agensi Rumah Tangga di BIP, Bandung, bareng Teh Efi. Udah lama deh kita nggak jalan dan ngobrol selama hari ini. Next kita ulang lagi ya teh. 


Agensi Rumah Tangga menghibur sekali!

Bukan tipe film yang membuat kita harus serius memperhatikan setiap detail cerita. Justru film ini terasa ringan, ramai, dan beberapa adegannya sukses bikin saya dan Teh Efi ketawa di dalam studio. Bahkan ngakak. 




Agensi Rumah Tangga, Film yang Dekat dengan Kehidupan Sehari-hari

Film yang disutradarai Naya Anindita ini diadaptasi dari novel karya Almira Bastari. Ceritanya mengikuti Katia Amaranto ( ama siapa? ama Ranto, wkwkkw) yang diperankan Enzy Storia, seorang perempuan yang harus menghadapi kenyataan setelah kehilangan pekerjaan.

Dari situ, Katia kemudian punya ide untuk membangun bisnis agensi penyalur asisten rumah tangga.


Kedengarannya sederhana, ya?

Tapi justru dari ide sederhana inilah berbagai persoalan mulai muncul. Ada urusan pekerjaan, keluarga, hubungan dengan orang tua, para pekerja rumah tangga dengan cerita mereka masing-masing, sampai persoalan ketika bisnis yang dijalankan ternyata tidak semudah yang dibayangkan.

Saya suka dengan premis seperti ini karena sebenarnya dekat sekali dengan kehidupan kita.

Soal kehilangan pekerjaan, mencari jalan lain ketika keadaan tidak sesuai rencana, keinginan orang tua yang kadang berbeda dengan pilihan anak, sampai usaha untuk tetap bertahan ketika hidup sedang tidak baik-baik saja.

Rasanya familiar.



Kalau melihat judulnya, mungkin ada yang mengira Agensi Rumah Tangga akan menjadi film yang serius membahas dunia ART.

Ternyata tidak.

Film ini justru memilih jalur komedi yang ringan. Banyak karakter dengan tingkah masing-masing yang membuat suasana film menjadi ramai.

Dan menurut saya, ini salah satu kekuatan filmnya.

Kita bisa tertawa tanpa merasa sedang digurui.

Di balik kelucuan para karakternya, film ini tetap menyelipkan pesan tentang bagaimana kita melihat dan memperlakukan pekerja rumah tangga. Mereka bukan hanya "orang yang bekerja di rumah", tetapi juga manusia yang punya keluarga, kebutuhan, impian, masalah, dan kehidupan sendiri.


Pesan seperti ini menurut saya penting, apalagi karena disampaikan dengan cara yang santai.

Jadi setelah tertawa, ada sedikit ruang untuk kita berpikir, "Oh iya juga ya..."

Selain Enzy Storia, ada Afgan yang memerankan Kafka. Saya sendiri menikmati chemistry keduanya. Bagian romansa di film ini menurut saya cukup menjadi pemanis tanpa mengambil alih cerita utama.

Afgan sebagai Kafka juga memberikan warna tersendiri. Apalagi karakter Kafka merupakan seorang penyanyi yang hidup dengan kesibukan dan tuntutan sebagai figur publik.

Jadi, selain komedi dan cerita tentang dunia kerja, ada juga sedikit bumbu romance yang membuat film ini semakin lengkap.

Tapi tenang, saya nggak akan cerita terlalu banyak soal hubungan mereka.

Nanti malah jadi spoiler. 




Yang Saya Suka dari Agensi Rumah Tangga

Salah satu hal yang paling saya nikmati adalah film ini tidak terasa terlalu berat.

Durasi sekitar 115 menit terasa cukup nyaman untuk sebuah tontonan drama komedi.

Ada bagian yang membuat tertawa, ada bagian yang membuat kita ikut gemas dengan tingkah karakternya, dan ada juga bagian yang membuat kita sedikit berpikir tentang kehidupan dan pilihan-pilihan yang harus diambil.

Saya juga suka karena karakter-karakternya tidak terasa sempurna.

Katia misalnya, bukan perempuan yang selalu tahu apa yang harus dilakukan. Ada saatnya dia berani mengambil keputusan, ada juga saatnya panik dan harus menghadapi konsekuensi dari pilihannya sendiri.

Justru sisi seperti itu yang membuat karakternya terasa manusiawi.

Karena dalam kehidupan nyata juga begitu, kan?

Kita sering kali baru tahu harus bagaimana setelah menjalaninya.


Jangan Takut Spoiler, Saya Nggak Akan Cerita 

Untuk kamu yang belum menonton, saya sengaja tidak mau membahas terlalu jauh mengenai konflik, kejadian-kejadian penting, apalagi bagaimana akhirnya.

Lebih seru kalau kamu mengalami sendiri ceritanya di bioskop.

Apalagi kalau nontonnya bareng teman. Bisa jadi pengalaman yang menyenangkan karena setelah film selesai, biasanya ada saja bahan obrolan yang bisa dibahas.

Seperti saya dan Teh Efi waktu itu.

Berangkat dari makan di Ramen Ya, lanjut nonton di BIP, kemudian pulang dengan perasaan cukup happy karena mendapatkan tontonan yang memang menghibur.

Kadang memang sesederhana itu cara menikmati waktu bersama teman.

Nggak harus pergi jauh.

Nggak harus bikin agenda yang ribet.

Cukup makan enak, masuk bioskop, ketawa bareng, lalu ngobrol soal film setelahnya.


Jadi, Apakah Agensi Rumah Tangga Layak Ditonton?

Menurut saya: iya.

Terutama kalau kamu sedang mencari film Indonesia yang ringan, lucu, punya cerita yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, tetapi tetap memberikan pesan tentang perempuan, pekerjaan, keluarga, dan kehidupan para pekerja domestik.

Film ini juga cocok buat kamu yang ingin refreshing dan sekadar mencari hiburan di bioskop.

Saya pribadi menikmati Agensi Rumah Tangga karena filmnya tidak berusaha menjadi terlalu berat. Ia tahu bahwa cerita yang dibawakan punya isu penting, tetapi memilih menyampaikannya lewat komedi dan karakter-karakter yang menghibur.

Dan buat saya, itu berhasil.

Menghibur, ringan, tapi tetap meninggalkan sesuatu untuk dipikirkan.

Kalau kamu sudah menonton, saya penasaran...

Menurut kamu, bagian paling lucu dari Agensi Rumah Tangga yang mana? Atau justru ada pesan dari film ini yang paling kamu ingat setelah keluar dari bioskop?

Tulis di kolom komentar ya. Jangan spoiler untuk teman-teman yang belum nonton. 😄


Judul: Agensi Rumah Tangga
Genre: Drama, Komedi
Sutradara: Naya Anindita
Durasi: 115 menit
Tanggal tayang: 10 September 2026
Pemeran: Enzy Storia, Afgansyah Reza, Fita Anggriani, Ardit Erwandha, Yunita Siregar, dan lainnya
Usia: 13+

Kalau kamu lagi cari rekomendasi film Indonesia yang menghibur untuk ditonton bareng teman, Agensi Rumah Tangga bisa masuk daftar.

Siapkan waktu, ajak teman, beli popcorn, dan nikmati sendiri kekacauan lucu Katia dan teman-temannya di layar lebar. 

Selamat menonton!



Sampai jumpa pada postingan selanjutnya,


Tian lustiana 

Jumat, 28 Agustus 2026

Festival Film Bandung 2026, Sebuah Malam untuk Merayakan Cerita

Festival Film Bandung 2026, Sebuah Malam untuk Merayakan Cerita

Tianlustiana.com - Ini kali ke- empat saya mendapatkan undangan untuk hadir di Festival Film Bandung 2026. Sebagai seorang blogger yang mendapatkan kesempatan ini, rasanya ada perasaan yang sangat sulit saya jelaskan ketika mendapatkan kesempatan untuk hadir di acara yang pasti akan datang para aktor keren yang mewarnai perfilman Indonesia. 



Saya, datang sebagai seorang blogger. Hadir dengan kamera ponsel, catatan kecil, rasa penasaran dan tentu saja keinginan untuk membagikan cerita malam ini kepada pembaca blog. Hingga malam itu, saya pulang bukan hanya dengan foto dan video yang ada dalam ponsel namun juga dengan banyak cerita. Tentang film, tentang mereka yang berada di balik layar, tentang para aktor yang membuat karakternya lebih hidup. 



Festival Film Bandung 2026, Sebuah Malam untuk Merayakan Cerita

Festival Film Bandung (FFB) adalah ajang apresiasi yang menjadi bagian dari perjalanan perfilman Indonesia, sudah 39 tahun. Nyaris sama dengan usia saya. Forum Film Bandung sudah hadir sejak 1986 dan mulai menyelenggarakan Festival Film Bandung pada tahun 1987. Yang menarik dari Festival Film Bandung ini buat saya adalah menggunakan istilah "terpuji", bentuk apresiasi untuk karya dan insan perfilman yang sudah dinilai memiliki kualitas, artistik, teknis dan juga nilai kemanusiaan. 

Tahun ini, Festival Film Bandung yang ke - 39. Perjalanan yang tidak sebentar, hampir empat dekade. Bayangin aja udah berapa banyak film yang sudah lahir. Sudah berapa banyak aktor yang berkembang dan sudah berapa banyak cerita yang diubah menjadi adegan, dialog, musik dan menjadi film yang kita nikmati. 

FFB 2026 kini mengusung tema "Sinema Rona Keluarga", tema yang sangat hangat, karena keluarga itu memang selalu menjadi ruang yang sangat dekat dengan kehidupan manusia. Ada cinta, konflik, kehilangan, perjuangan dan juga harapan. Hal yang sangat sering kita temukan dalam film - film. Membayangkan perjalanan yang membawa mereka, para nominator hingga bisa berada pada titik ini. Sebuah panggung penghargaan ini tuh bukan hanya berbicara tentang siapa yang berdiri diatas panggung, dibaliknya ada proses yang panjang. 

Ada penulis skenario yang mungkin habiskan banyak waktu untuk menyusun cerita. Ada sutradara yang harus menerjemahkan tulisan menjadi sebuah visual, aktor yang harus memahami karakter agar aktingnya menawan dan membuat film ini kena ke hatipenonton, serta ada editor, penata kamera, penata artistik, penata musik dan masih banyak orang yang ikut andil namun tidak terlihat oleh penonton. 

Film yang kita tonton bisa sampai 2 jam, namun untuk menciptakan 2 jam ini ada perjalanan yang mungkin berlangsung berbulan - bulan, bahkan bisa bertahun - tahun lamanya. 

Festival Film Bandung ini adalah salah satu ruang apresiasi untuk bisa melihat karya -  karya yang tidak terlihat. 

Sebelum malam puncak digelar, Forum Film Bandung terlebih dahulu mengumumkan daftar nominasi pada 16 Juli 2026.

Proses pengamatan FFB 2026 mencakup karya-karya yang tayang dalam periode 1 September 2025 hingga 30 Juni 2026. Pada periode tersebut, tercatat 144 film Indonesia yang menjadi bagian dari pengamatan, bersama berbagai karya serial televisi dan serial web. 

Beberapa judul besar berhasil masuk dalam nominasi dan menjadi perbincangan.

Untuk kategori Film Indonesia Terpuji, lima film yang bersaing adalah:

  • Children of Heaven

  • Dopamin

  • Nobody Loves Kay

  • Pangku

  • Para Perasuk

Lima film tersebut menjadi representasi dari beragam warna perfilman Indonesia tahun ini.

Sementara itu, untuk kategori Sutradara Terpuji Film Indonesia, nama-nama yang masuk nominasi adalah:

  • Dinna Jasanti

  • Hanung Bramantyo

  • Joko Anwar

  • Reza Rahadian

  • Wregas Bhanuteja

Melihat daftar ini saja sudah cukup membuat saya merasa bahwa persaingan FFB 2026 sangat menarik.

Ada nama-nama besar yang sudah lama berkarya di industri film.

Ada pula sineas yang terus memberikan warna baru bagi perfilman Indonesia.

Untuk kategori Pemeran Utama Pria Terpuji, para nominator diisi oleh:

  • Angga Yunanda

  • Jared Ali

  • Reza Rahadian

  • Vino G. Bastian

  • Yusuf Mahardika

Sedangkan untuk Pemeran Utama Wanita Terpuji, nama-nama yang masuk nominasi antara lain:

  • Amanda Rawles

  • Claresta Taufan

  • Marsha Timothy

  • Shenina Cinnamon

  • Marissa Anita

Daftar tersebut memperlihatkan betapa beragamnya wajah perfilman Indonesia saat ini. Ada aktor dan aktris yang sudah lama kita kenal, tetapi juga ada generasi yang semakin kuat menunjukkan kualitas aktingnya. 

Daftar Pemenang Festival Film Bandung 2026

Dan tibalah malam yang ditunggu-tunggu.

Saat nama-nama pemenang Festival Film Bandung 2026 diumumkan satu per satu.

Salah satu film yang paling mencuri perhatian adalah Pangku.

Film ini berhasil meraih beberapa penghargaan penting, termasuk Film Indonesia Terpuji. Reza Rahadian juga meraih penghargaan Sutradara Terpuji Film Indonesia melalui film tersebut, sementara Claresta Taufan memenangkan kategori Pemeran Utama Wanita Terpuji Film Indonesia lewat perannya dalam Pangku


Pemenang Kategori Film Indonesia Terpuji FFB 2026

Berikut daftar pemenang kategori film Indonesia dalam Festival Film Bandung 2026:

Film Indonesia Terpuji : 

Pangku

Sutradara Terpuji Film Indonesia:

Reza Rahadian – Pangku

Pemeran Utama Wanita Terpuji Film Indonesia:

Claresta Taufan – Pangku

Pemeran Utama Pria Terpuji Film Indonesia:

Jared Ali – Children of Heaven dan Reza Rahadian – Semua Akan Baik-Baik Saja

Pemeran Pembantu Pria Terpuji Film Indonesia:

Aming – Ghost in the Cell

Pemeran Pembantu Wanita Terpuji Film Indonesia:

Meriam Bellina – Senin Harga Naik

Penulis Skenario Terpuji Film Indonesia:

Johana Wattimena dan Bernadus Raka – Nobody Loves Kay

Penata Editing Terpuji Film Indonesia:

Aline Jusria – Dopamin

Penata Kamera Terpuji Film Indonesia:

Vera Lestafa – Dopamin

Penata Artistik Terpuji Film Indonesia:

Rini Sri Handayani – Na Willa

Penata Musik Terpuji Film Indonesia:

Ofel Obaja Setiawan – Na Willa

Daftar pemenang ini memperlihatkan bahwa sebuah film bukan hanya tentang aktor atau sutradara. 



Sebuah film adalah kerja bersama.

Ketika kita menikmati sebuah adegan yang indah, mungkin ada kerja keras seorang penata kamera di sana.

Ketika suasana sebuah film terasa hidup, ada penata artistik yang bekerja membangun dunia cerita.

Ketika sebuah adegan terasa emosional, musik mungkin menjadi bagian penting yang membuat kita ikut merasakan emosi tersebut.

Itulah mengapa menurut saya menarik melihat Festival Film Bandung memberikan apresiasi pada begitu banyak unsur di balik sebuah film.



Pemenang Kategori Serial Web Festival Film Bandung 2026

Perkembangan dunia digital juga menjadi bagian dari perhatian Festival Film Bandung.

Saat ini, cerita tidak hanya hidup di layar bioskop atau televisi.

Kita juga menemukan banyak cerita menarik melalui berbagai platform digital dan layanan streaming.

Untuk kategori serial web, berikut beberapa pemenang FFB 2026:

  • Serial Web Terpuji: Ganteng-Ganteng Genteng: Kontes Otot Paling Viral

  • Sutradara Terpuji Serial Web: Lucky Kuswandi – Ratu-Ratu Queens: The Series

  • Pemeran Utama Wanita Terpuji Serial Web: Wulan Guritno – Mama-Mama Pengejar Cinta

  • Pemeran Utama Pria Terpuji Serial Web: Yesaya Abraham – Secret High School

  • Pemeran Pembantu Pria Terpuji Serial Web: Randy Martin – Generasi D'Bijis

  • Pemeran Pembantu Wanita Terpuji Serial Web: Alexandra Gotardo – Balas Dendam Istri yang Tak Dianggap

Kehadiran kategori serial web ini menjadi bukti bahwa cara kita menikmati cerita memang terus berkembang. 

Pemenang Kategori Serial Televisi FFB 2026

Untuk kategori serial televisi, penghargaan diberikan kepada:

  • Pemeran Pria Terpuji Serial Televisi: Fendy Chow – Terikat Janji

  • Pemeran Wanita Terpuji Serial Televisi: Adhisty Zara – Beri Cinta Waktu 

Televisi mungkin sudah berkembang mengikuti perubahan zaman, tetapi cerita yang kuat dan akting yang baik tetap memiliki tempat di hati penonton.

Penghargaan Lifetime Achievement untuk Christine Hakim

Salah satu momen yang menurut saya memiliki makna mendalam adalah pemberian penghargaan Lifetime Achievement kepada Christine Hakim.

Nama Christine Hakim tentu bukan nama kecil dalam dunia perfilman Indonesia.

Perjalanan kariernya telah menjadi bagian dari sejarah sinema Indonesia.

Memberikan penghargaan atas perjalanan panjang seseorang rasanya berbeda dengan memberikan penghargaan untuk satu karya.

Karena yang diapresiasi adalah waktu.

Puluhan tahun berkarya.

Puluhan karakter.

Berbagai cerita.

Dan dedikasi yang terus diberikan untuk dunia perfilman.

Penghargaan Lifetime Achievement ini menjadi salah satu bentuk penghormatan Festival Film Bandung terhadap kontribusi Christine Hakim bagi perfilman Indonesia. 

Film Impor yang Mendapat Penghargaan di Festival Film Bandung 2026

Festival Film Bandung 2026 juga memberikan apresiasi kepada sejumlah film impor dari berbagai genre.

Berikut beberapa karya yang menerima predikat terpuji:

  • Backrooms – Film Horor Psikologis Terpuji

  • Hamnet – Film Drama Sejarah Romansa Terpuji

  • Hokum – Film Horor Misteri Terpuji

  • Hoppers – Film Animasi Terpuji

  • It Was Just An Accident – Film Thriller Kriminal Terpuji

  • Kokuho – Film Epik Budaya Terpuji

  • Marty Supreme – Film Drama Olahraga Terpuji

  • Obsession – Film Horor Romansa Terpuji

  • One Battle After Another – Film Aksi Thriller Terpuji

  • Project Hail Mary – Film Fiksi Ilmiah Terpuji

  • The Furious – Film Laga Terpuji

  • The Sheep Detective – Film Komedi Detektif Terpuji 

Pangku, Salah Satu Bintang Utama Festival Film Bandung 2026

Kalau berbicara tentang karya yang paling menonjol dalam FFB 2026, sulit untuk tidak menyebut Pangku.

Film ini berhasil membawa pulang penghargaan untuk:

  • Film Indonesia Terpuji

  • Sutradara Terpuji melalui Reza Rahadian

  • Pemeran Utama Wanita Terpuji melalui Claresta Taufan

Tiga penghargaan penting dalam satu malam.

Tentu bukan pencapaian kecil.

Dan dari sini saya kembali berpikir bahwa sebuah film yang kuat biasanya bukan hanya karena satu orang.

Ada visi.

Ada kerja sama.

Ada keberanian untuk bercerita.

Ada tim yang percaya pada cerita tersebut.

Dan pada akhirnya, ada penonton yang ikut merasakan perjalanan cerita itu.




Lebih dari Sekadar Penghargaan

Setelah menghadiri Festival Film Bandung 2026, saya semakin menyadari bahwa dunia perfilman sebenarnya sangat dekat dengan kehidupan kita.

Film adalah cerita tentang manusia.

Tentang keluarga.

Tentang cinta.

Tentang kehilangan.

Tentang mimpi.

Tentang kegagalan.

Tentang seseorang yang berusaha bertahan.

Mungkin itulah alasan mengapa sebuah film bisa begitu membekas.

Karena terkadang kita tidak sedang menonton cerita orang lain.

Terkadang, kita sedang menemukan sedikit bagian dari diri kita sendiri di dalam cerita tersebut.

Mungkin dalam karakter yang sedang berjuang.

Mungkin dalam dialog sederhana.

Atau mungkin dalam sebuah adegan yang entah kenapa membuat kita diam cukup lama setelah film selesai.

Sebagai seorang blogger, saya pun merasa bahwa pekerjaan saya sebenarnya tidak jauh berbeda.

Saya juga bercerita.

Bedanya, cerita saya hadir dalam bentuk tulisan.

Tentang pengalaman.

Tentang perjalanan.

Tentang sebuah acara.

Tentang sesuatu yang saya lihat dan saya rasakan.

Dan malam di Festival Film Bandung 2026 ini adalah salah satu cerita yang ingin saya simpan.

Bukan hanya sebagai dokumentasi.

Tetapi sebagai pengingat bahwa karya, sekecil atau sebesar apa pun, selalu membutuhkan ruang untuk diapresiasi.

Bandung dan Cerita yang Terus Hidup

Ada sesuatu yang terasa spesial ketika acara seperti Festival Film Bandung digelar di kota ini.

Bandung memang selalu punya hubungan yang unik dengan kreativitas.

Kota ini dipenuhi oleh orang-orang yang suka membuat sesuatu.

Musik.

Film.

Seni.

Tulisan.

Konten.

Desain.

Dan tentu saja, cerita.

Maka ketika malam puncak Festival Film Bandung 2026 digelar di Bandung, saya merasa seperti melihat satu bagian dari identitas kota ini sedang dirayakan.

Bukan hanya tentang siapa yang menang.

Tetapi tentang bagaimana kreativitas terus hidup.

Tentang bagaimana sebuah cerita bisa berawal dari mana saja.

Dari sebuah pengalaman pribadi.

Dari percakapan.

Dari keluarga.

Dari keresahan.

Atau bahkan dari sebuah pertanyaan sederhana:

“Bagaimana kalau cerita ini dijadikan film?”

Dan mungkin dari pertanyaan sederhana itulah, lahir karya-karya yang suatu hari nanti akan berdiri di panggung penghargaan.

Dan Festival Film Bandung 2026 memberikan banyak cerita untuk dibawa pulang.

Sampai jumpa di cerita berikutnya.

Karena selama masih ada manusia yang ingin bercerita, akan selalu ada cerita yang layak untuk ditonton, ditulis, dan dikenang.


Sampai jumpa pada postingan selanjutnya,


Tian lustiana 

Minggu, 23 Agustus 2026

Laptop Setipis Ini, Kok Bisa Se-‘Gahar’ Itu? Kenalan dengan ASUS ExpertBook Ultra

Laptop Setipis Ini, Kok Bisa Se-‘Gahar’ Itu? Kenalan dengan ASUS ExpertBook Ultra

Tianlustiana.com - Sebagai seorang blogger, konten kreator dan juga digital marketing, adalah pekerjaan yang tidak bisa menetap disatu tempat, selalu mobile, tidak selalu work from office namun juga work from anywhere

Pagi dimulai dengan buka email, menyusun content plan, diskusi dengan tim atau dengan KOL. Sore nya bisa saja berpindah ke acara atau ada meeting dadakan untuk event tertentu dengan klien. Kemana - mana. laptop harus selalu dibawa. Kadang malampun harus tetap membuka dashboard, menyelesaikan artikel blog atau menyiapkan strategi untuk brand yang saya handle. 




Kadang, saya bekerja dari rumah, kadang harus ke kantor, tidak jarang pula saya bekerja di cafe. Pokoknya kemanapun saya harus tetap membaca laptop, even ketika liburan keluar kota. Karena buat saya, laptop itu bukan sekedar perangkat namun ruang kerja yang harus selalu ikut bersama.

Beberapa hari lalu, saya mendapatkan kesempatan untuk kenalan lebih dekat dengan salah satu produk ASUS BUSSINES, ASUS ExpertBook Ultra bersama teman-teman Blogger Bandung. Dan ini membuka wawasan saya bahwa memang kebutuhan terhadap laptop profesional sekarang sudah berubah cukup jauh. 




Bukan hanya mencari laptop yang kencang, namun juga butuh perangkat yang ringan untuk dibawa, nyaman digunakan berjam-jam, powerful untuk multitasking, keamanan yang mumpuni, tahan terhadap mobilitas sehari-hari yang lumayan tinggi sekaligus harus siap menghadapi cara kerja terbaru dengan teknologi AI.

Semua kebutuhan itu sudah dijawa oleh ASUS, melalui satu perangkat ini : Asus ExpertBook Ultra. Laptop bisnis premium yang memiliki tagline "The Flagship of the Industry. Period" , kalimat singkat dan membuat saya makin penasaran. 


Memangnya seberapa "ultra" laptop ini? 

Mengenal ASUS ExpertBook Ultra, Laptop Bisnis Dirancang untuk Cara Kerja Masa Kini

ASUS ExpertBook Ultra adalah laptop bisnis flagship yang memang dirancang khusus untuk para profesional, eksekutif, pebisnis dan juga pekerja  dengan mobilitas tinggi. Jadi, bukan hanya andalkan desain premium namun ASUS bekali ExpertBook Ultra ini dengan kombinasi performa, AI, keamanan enterprise, layar berkualitas tinggi dan bodi yang sangat ringan. 

Yang menarik, laptop ini juga hadir sebagai Copilot+ PC didukung oleh prosesor hingga Intel® Core™ Ultra X9 Series 3 dan NPU hingga 50 TOPS untuk pemrosesan AI. ASUS juga menyediakan konfigurasi memori hingga 64 GB LPDDR5x dan penyimpanan PCIe® 5.0 hingga 2 TB. 



Untuk saya yang sehari-hari terbiasa buka banyak aplikasi sekaligus, spesifikasi ini relevan banget. Coba deh bayangin aja, sehari kerja dengan belasan tab terbuka, belum lagi canva, googgle meet, file excel yang terbuka, edit powerpoint dan whatsapp web. Belum lagi aplikasi editing, dashboard sosial media dan tools AI yang zaman now itu sudah menjadi bagian dari pekerjaan sehari-hari. 

Ya, memang dunia digital  seperti itu, jarang sekali melakukan satu pekerjaan dalam satu waktu, dan ASUS ExpertBook Ultra ini memang dirancang untuk menghadapi kondisi seperti ini.


Pandangan pertama: Tipis, Ringan, Namun Kokoh

Yang pertama membuat saya jatuh hati adalah desainnya, bodi premium yang berbahan  aerospace-grade magnesium-aluminium alloy, diproses menggunakan CNC. Bobotnya saja sangat ringan, mulai 0,99kg dengan ketebalan 10,9mm. Kurang dari sekilo ya gaes. 

Cocok banget kan untuk saya yang suka work from anywhere, bawa-bawa laptop kemanapun. 

Ada kamera, charger, notebook, power bank, perlengkapan pribadi, dan berbagai kebutuhan lainnya. Jadi, ketika laptop bisa tetap ringan tanpa terasa mengorbankan performa, itu tentu menjadi nilai tambah yang besar.


ASUS juga menggunakan Nano Ceramic Technology pada bagian bodi untuk membantu meningkatkan ketahanan terhadap goresan dan noda. Bahkan ASUS menyebut tingkat kekerasan permukaannya mencapai 9H. 

Yang saya suka dari konsep desain seperti ini adalah keseimbangannya.

Ringan, iya.

Tipis, iya.

Tapi tetap dirancang untuk penggunaan profesional dan mobilitas tinggi.

Bukan tipe laptop yang membuat kita merasa harus terlalu “khawatir” setiap kali memasukkannya ke dalam tas.




Saat Laptop Seberat 1 Kilogram Harus Menghadapi Beban 100 Kilogram

Nah, ini mungkin menjadi salah satu bagian yang paling membuat saya dan teman-teman Blogger Bandung terkesan.

Dalam sesi pengenalan dan pengujian ASUS ExpertBook Ultra di Bandung, laptop ini diperlihatkan mampu menghadapi pengujian ketahanan, termasuk tekanan hingga 100 kilogram.

Membayangkan laptop tipis dan ringan diberi beban seberat itu tentu membuat refleks saya berpikir, “Serius ini aman?”

Namun justru di situlah pesan yang ingin disampaikan ASUS.

Laptop dengan mobilitas tinggi tidak hanya harus ringan.

Ia juga harus siap menghadapi berbagai risiko penggunaan sehari-hari.


Mulai dari tertekan barang di dalam tas, terbentur perlengkapan lain, terkena gesekan, hingga digunakan dalam berbagai kondisi kerja.

ASUS ExpertBook Ultra juga dirancang memenuhi standar ketahanan MIL-STD 810H, sebuah standar pengujian yang digunakan untuk mengevaluasi ketahanan perangkat dalam berbagai kondisi. 

Tentu bukan berarti kita bebas memperlakukan laptop sesuka hati.

Tetapi setidaknya, ada rasa percaya diri lebih ketika membawa perangkat kerja yang memang dibangun untuk mobilitas.




Performa ASUS ExpertBook Ultra: Ketika Multitasking Bukan Lagi Masalah

Sebagai seseorang yang bekerja di dunia digital marketing, saya cukup memahami bahwa performa laptop sangat memengaruhi ritme kerja.

Laptop yang lambat bisa mengubah pekerjaan lima menit menjadi tiga puluh menit.

Aplikasi yang tiba-tiba tidak responsif bisa mengganggu fokus.

Dan ketika sedang berpacu dengan deadline, hal-hal kecil seperti itu bisa terasa sangat menyebalkan.

ASUS ExpertBook Ultra dibekali pilihan prosesor hingga Intel® Core™ Ultra X9 Processor 388H, dengan konfigurasi lain yang mencakup Intel Core Ultra X7, Ultra 7, hingga Ultra 5.

Yang membuatnya semakin menarik adalah kehadiran NPU atau Neural Processing Unit dengan kemampuan hingga 50 TOPS.

NPU merupakan bagian khusus yang dirancang untuk menangani beban kerja berbasis AI secara lebih efisien.


ASUS menyebut total kemampuan platform AI-nya dapat mencapai hingga 180 TOPS, tergantung konfigurasi. 

Buat orang yang mungkin belum terlalu familiar dengan istilah TOPS, sederhananya begini.

Semakin berkembangnya teknologi AI, semakin banyak pekerjaan yang kini dapat dibantu oleh kecerdasan buatan.

Mulai dari:

  • transkripsi rapat,

  • penerjemahan,

  • optimasi video dan kamera,

  • pencarian informasi,

  • pembuatan konten,

  • pengolahan dokumen,

  • hingga berbagai fitur AI yang dapat berjalan langsung di perangkat.Dengan adanya NPU khusus, sebagian pekerjaan AI dapat diproses dengan lebih efisien tanpa selalu membebani CPU utama.


Bagi saya pribadi, ini cukup menarik karena AI sekarang sudah bukan lagi sekadar tren.

AI perlahan menjadi rekan kerja digital.

Bukan untuk menggantikan manusia, tetapi membantu kita bekerja lebih cepat.


ASUS ExpertBook Ultra dan Era AI untuk Produktivitas

Sebagai digital marketer, saya sendiri melihat perubahan cara kerja yang cukup besar dalam beberapa tahun terakhir.

Dulu mungkin kita membutuhkan waktu cukup lama untuk melakukan brainstorming, membuat rangkuman meeting, mencari insight, atau menyusun struktur presentasi.

Sekarang AI bisa membantu mempercepat beberapa proses tersebut.

Tetapi tentu saja, hasil akhirnya tetap membutuhkan manusia.

Tetap membutuhkan strategi.

Tetap membutuhkan kreativitas.

Tetap membutuhkan pemahaman terhadap audiens.

Karena itu, saya lebih suka melihat AI sebagai teammate, bukan pengganti.

ASUS ExpertBook Ultra membawa sejumlah fitur dan ekosistem AI untuk mendukung kebutuhan kerja profesional.

Salah satunya adalah ASUS AI ExpertMeet, yang dapat membantu kebutuhan meeting seperti transkripsi, penerjemahan, dan optimasi kamera.


Ada juga ASUS MyExpert yang mengintegrasikan sejumlah kebutuhan berbasis AI untuk mendukung alur kerja dan produktivitas profesional.

Untuk pengguna yang sehari-hari menghadapi meeting cukup banyak, fitur seperti ini terasa relevan.

Bayangkan ketika sedang mengikuti meeting panjang.

Biasanya kita harus memilih antara benar-benar fokus mendengarkan atau sibuk mengetik catatan.

Dengan bantuan teknologi transkripsi dan AI, proses pencatatan bisa menjadi lebih praktis sehingga kita dapat lebih fokus pada percakapan.

Tentu saja, hasil AI tetap perlu dicek kembali.

Tetapi sebagai alat bantu, teknologi seperti ini bisa menghemat cukup banyak waktu.


Performa 50W dalam Bodi yang Sangat Tipis

Hal menarik lainnya dari ASUS ExpertBook Ultra adalah kemampuan performanya yang didukung sistem pendingin ASUS ExpertCool Pro.

ASUS menyebut sistem pendingin dual-fan ini mendukung performa hingga 50W TDP.

Ini cukup menarik karena biasanya, semakin tinggi performa sebuah perangkat, semakin besar pula tantangan dalam mengelola suhu.

ASUS mencoba menjawabnya dengan sistem pendinginan yang tetap mempertahankan bentuk laptop yang tipis.


Sistem ExpertCool Pro dirancang dengan kipas ganda untuk menjaga performa perangkat ketika menjalankan pekerjaan berat. 


Buat saya, ini relevan untuk aktivitas seperti:

  • membuka banyak aplikasi sekaligus,

  • mengolah file besar,

  • membuat presentasi,

  • editing konten,

  • menjalankan tools berbasis AI,

  • melakukan video conference,

  • hingga berpindah dari satu pekerjaan ke pekerjaan lain tanpa harus menunggu terlalu lama.

Karena produktivitas sebenarnya bukan hanya soal seberapa cepat kita bekerja.

Tetapi juga seberapa sedikit gangguan yang kita alami selama bekerja.


RAM hingga 64 GB dan SSD PCIe 5.0: Siap untuk Pekerjaan Berat

ASUS ExpertBook Ultra mendukung RAM hingga 64 GB LPDDR5x.

Sementara untuk penyimpanan, tersedia SSD M.2 PCIe® 5.0 hingga 2 TB.

Untuk pengguna biasa mungkin spesifikasi sebesar ini terasa berlebihan.

Tetapi untuk profesional dengan kebutuhan multitasking tinggi, kapasitas tersebut tentu memiliki manfaat tersendiri.


Apalagi pekerjaan sekarang semakin berat.

File video semakin besar.

Data semakin banyak.

Aplikasi semakin kompleks.

Dan jumlah tools yang digunakan juga semakin bertambah.

Dukungan PCIe 5.0 juga memberikan potensi kecepatan transfer dan akses data yang lebih tinggi dibanding generasi sebelumnya.

Bagi kreator konten, marketer, maupun profesional yang sering berhadapan dengan file besar, hal seperti ini bisa sangat membantu.


Layar Tandem OLED 3K yang Bukan Sekadar Memanjakan Mata

Jujur, saya termasuk orang yang cukup lama menatap layar setiap hari.

Menulis artikel.

Membuat konten.

Mengecek media sosial.

Mengedit visual.

Membaca laporan campaign.

Dan tentu saja, kadang pekerjaan belum selesai meskipun mata sudah mulai lelah.

Karena itu, kualitas layar menjadi salah satu hal yang menurut saya penting.


ASUS ExpertBook Ultra hadir dengan layar hingga 14 inci 3K Tandem OLED, resolusi 2880 x 1800 dengan rasio 16:10.

Layarnya mendukung refresh rate hingga 120Hz, 100% DCI-P3, serta tingkat kecerahan HDR hingga 1400 nits pada konfigurasi Tandem OLED.

Yang menarik adalah penggunaan teknologi Tandem OLED.

Secara sederhana, teknologi ini menggunakan struktur OLED berlapis untuk membantu menghasilkan tingkat kecerahan yang tinggi dan efisiensi yang lebih baik.


Untuk kebutuhan kerja, layar seperti ini terasa bermanfaat ketika:

  • membuat materi visual,

  • mengedit foto dan video,

  • melihat presentasi,

  • membaca dokumen,

  • hingga bekerja di lingkungan dengan pencahayaan cukup terang.

Selain itu, ASUS juga menggunakan Corning® Gorilla® Matte Display dan Gorilla Glass Victus pada konfigurasi tertentu.

Lapisan matte membantu mengurangi pantulan cahaya sehingga layar lebih nyaman digunakan di berbagai kondisi pencahayaan.

Buat saya yang kadang bekerja dari coffee shop dengan posisi duduk yang tidak selalu ideal, layar anti-glare seperti ini jelas terasa berguna.


Bekerja Lebih Nyaman dengan Keyboard 1,5 mm dan Haptic Touchpad

Sering menulis artikel panjang membuat saya cukup sensitif dengan kenyamanan keyboard.

Keyboard yang terlalu dangkal biasanya membuat tangan lebih cepat lelah.

ASUS ExpertBook Ultra menggunakan keyboard full-size dengan key travel 1,5 mm.

Angka ini mungkin terlihat kecil, tetapi bagi orang yang mengetik berjam-jam, pengalaman mengetik bisa terasa berbeda.

Keyboard-nya juga memiliki fitur backlit dan dirancang tahan terhadap tumpahan cairan.

Sementara untuk touchpad, ASUS menggunakan 110 cm² edge-to-edge glass haptic touchpad.

Haptic touchpad memberikan respons melalui teknologi haptic, bukan sekadar mekanisme klik konvensional.

Hasilnya, pengalaman navigasi terasa lebih modern, responsif, dan senyap.

Buat pekerjaan yang membutuhkan banyak perpindahan antar aplikasi, slide, atau dokumen, kenyamanan kecil seperti ini ternyata cukup terasa.


Audio Enam Speaker untuk Meeting dan Presentasi yang Lebih Imersif

ASUS ExpertBook Ultra juga dibekali sistem enam speaker dengan dukungan Dolby Atmos.

Bagi laptop bisnis, kualitas audio sering kali tidak menjadi hal pertama yang dibicarakan.

Padahal, coba hitung berapa kali dalam seminggu kita mengikuti video conference.

Meeting online.

Webinar.

Presentasi.

Menonton video referensi.

Mendengarkan rekaman.

Kualitas audio yang lebih baik tentu bisa meningkatkan pengalaman penggunaan secara keseluruhan.

ASUS menghadirkan konfigurasi speaker yang dirancang untuk menghasilkan suara lebih kaya dan imersif dibandingkan konfigurasi laptop standar. 


Baterai 70Wh, untuk Mereka yang Tidak Selalu Duduk Dekat Colokan

Mobilitas tinggi punya satu masalah klasik.

Mencari colokan.

Saya yakin banyak yang pernah mengalami situasi ini.

Datang ke coffee shop.

Cari meja.

Sudah nyaman.

Sudah buka laptop.

Lalu baru sadar, baterai tinggal 20 persen.

ASUS ExpertBook Ultra dibekali baterai 70Wh dan mendukung teknologi pengisian cepat.

Klaim daya tahan baterai tentu dapat berbeda tergantung konfigurasi, aplikasi yang digunakan, tingkat kecerahan layar, konektivitas, serta pola penggunaan.

Tetapi kapasitas baterai yang besar jelas menjadi bagian penting dari konsep laptop ini sebagai perangkat untuk mobilitas profesional. 

Bagi saya, laptop yang baik seharusnya memberi kebebasan.

Bukan membuat kita terus mencari sumber listrik.


Port Lengkap, Tidak Harus Selalu Bergantung pada Dongle

Salah satu hal yang cukup menyenangkan dari ASUS ExpertBook Ultra adalah pilihan port yang cukup lengkap.

Laptop ini memiliki:

  • 2x Thunderbolt™ 4,

  • USB-A 3.2 Gen 2,

  • HDMI 2.1,

  • audio combo jack.

Jadi, untuk kebutuhan presentasi atau menghubungkan perangkat tambahan, pengguna tidak selalu harus membawa banyak dongle.

Ini terlihat sederhana, tetapi bagi orang yang sering menghadiri meeting atau presentasi di berbagai tempat, ketersediaan port bisa sangat membantu.

ASUS ExpertBook Ultra juga mendukung Wi-Fi 7 dan Bluetooth® 6.0 pada konfigurasi yang tersedia.

Konektivitas cepat tentu menjadi bagian penting dari cara kerja modern yang sangat bergantung pada cloud, video conference, dan kolaborasi online.


Keamanan ASUS ExpertBook Ultra: Karena Data adalah Aset

Sebagai digital marketer, saya cukup sering berhadapan dengan berbagai data.

Data campaign.

Akses akun media sosial.

Materi strategi.

Dokumen klien.

Data performa.

File presentasi.

Dan saya rasa, hampir semua profesional juga memiliki data yang tidak seharusnya jatuh ke tangan orang lain.

Karena itulah, laptop bisnis tidak cukup hanya menawarkan performa.

Keamanan menjadi kebutuhan.

ASUS ExpertBook Ultra membawa sistem keamanan enterprise melalui ASUS ExpertGuardian dengan perlindungan yang mencakup level perangkat keras, firmware, dan sistem.

ASUS juga menyebut perangkat ini memenuhi standar keamanan NIST SP 800-193 untuk ketahanan dan perlindungan platform firmware.

Tergantung konfigurasi, penyimpanan juga mendukung teknologi keamanan seperti OPAL 2.0 Self-Encrypting Drive.

Buat pengguna enterprise dan profesional, perlindungan seperti ini penting untuk membantu menjaga data sensitif.

Karena kehilangan laptop memang menyebalkan.

Tetapi kehilangan data di dalam laptop bisa menjadi masalah yang jauh lebih besar.


ASUS ExpertBook Ultra Cocok untuk Siapa?

Menurut saya, ASUS ExpertBook Ultra bukan laptop yang ditujukan untuk semua orang.

Ini adalah laptop premium dengan positioning yang sangat jelas.

Laptop ini cocok untuk:

1. Profesional dan Eksekutif

Terutama mereka yang membutuhkan perangkat ringan, powerful, aman, dan mudah dibawa ke berbagai tempat.

2. Pebisnis dengan Mobilitas Tinggi

Untuk mereka yang sering berpindah dari satu meeting ke meeting lain, melakukan perjalanan bisnis, atau bekerja dari berbagai lokasi.

3. Digital Marketer

Karena pekerjaan digital marketing biasanya membutuhkan multitasking tinggi, penggunaan banyak tools, analisis data, meeting online, dan pembuatan presentasi.

4. Content Creator Profesional

Layar 3K OLED, performa tinggi, AI, kapasitas RAM besar, dan penyimpanan cepat bisa menjadi kombinasi menarik untuk kebutuhan kreatif.

5. Perusahaan dan Enterprise

Terutama karena dukungan Windows 11 Pro, fitur keamanan tingkat enterprise, serta fokus ASUS terhadap pengelolaan dan perlindungan perangkat bisnis.


Harga ASUS ExpertBook Ultra di Indonesia

Untuk pasar Indonesia, ASUS menampilkan harga mulai sekitar Rp34.999.000 pada halaman resminya saat artikel ini ditulis. Harga dan konfigurasi tentu dapat berubah tergantung model serta penawaran yang tersedia.

Bagi sebagian orang, angka tersebut tentu bukan harga yang kecil.

Tetapi ketika melihat positioning produk ini, ASUS ExpertBook Ultra memang tidak bermain di kelas laptop biasa.

Ini adalah perangkat yang ditujukan bagi pengguna yang melihat laptop sebagai investasi produktivitas.

Karena terkadang, harga sebuah perangkat bukan hanya dihitung dari spesifikasi.

Tetapi juga dari berapa banyak pekerjaan yang dapat kita lakukan dengannya.

Berapa banyak waktu yang bisa dihemat.

Seberapa nyaman perangkat tersebut digunakan setiap hari.

Dan seberapa besar rasa aman yang diberikan ketika kita membawa pekerjaan ke mana-mana.


Kesimpulan: Laptop untuk Mereka yang Tidak Mau Berkompromi

Setelah melihat dan mengenal lebih jauh ASUS ExpertBook Ultra, saya bisa memahami kenapa ASUS cukup percaya diri menyebut laptop ini sebagai “The Flagship of the Industry. Period.”

Karena ASUS tidak hanya mencoba membuat laptop yang tipis.

Tidak hanya membuat laptop yang ringan.

Tidak hanya memasukkan spesifikasi tinggi.

Tetapi mencoba menggabungkan semuanya dalam satu perangkat.

Ringan, tetapi tangguh.
Tipis, tetapi powerful.
Canggih, tetapi tetap fokus pada produktivitas.
Pintar dengan AI, tetapi juga serius dalam hal keamanan.


Sebagai blogger, content creator, dan digital marketer, saya melihat perubahan cara kerja yang semakin cepat.

Kita bekerja dari mana saja.

Menggunakan semakin banyak aplikasi.

Berhadapan dengan data yang semakin besar.

Dan kini mulai bekerja berdampingan dengan AI.

Karena itu, perangkat kerja juga harus ikut berkembang.

ASUS ExpertBook Ultra hadir bukan hanya sebagai laptop untuk membuka dokumen atau membuat presentasi.


Lebih dari itu, laptop ini seperti ingin menjadi partner kerja bagi orang-orang yang selalu bergerak, selalu menciptakan, dan tidak ingin produktivitasnya berhenti hanya karena keterbatasan perangkat.

Dan mungkin, itu alasan paling sederhana kenapa nama Ultra terasa cukup tepat.

Karena di tengah dunia kerja yang semakin kompleks, terkadang kita memang membutuhkan perangkat yang tidak meminta kita memilih antara performa atau mobilitas.

Kita ingin keduanya.

Dan ASUS ExpertBook Ultra mencoba menghadirkan keduanya dalam satu laptop.

Untuk informasi spesifikasi dan ketersediaan terbaru, kamu bisa melihat halaman resmi


Bagaimana menurut kamu? Kalau punya laptop sepowerful ini, pekerjaan apa yang paling ingin kamu selesaikan lebih cepat?


Sampai jumpa pada postingan selanjutnya,


Tian Lustiana